IAMI CALL FOR ESSAY AND PAPER
DIGITALISASI DAN PROSPEK BISNIS BUMN SEBAGAI LOKOMOTIF PEMBANGUNAN EKONOMI BANGSA

Perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan di berbagai aspek kehidupan serta mendorong kompetisi yang semakin ketat. Mobilitas manusia, distribusi barang, serta lalu lintas modal dan informasi semakin cepat berkembang melalui digitalisasi. Perkembangan digitalisasi telah menciptakan terobosan baru di bidang ekonomi, yaitu dalam interaksi bisnis ke bisnis, bisnis ke pelanggan, ataupun pelanggan ke pelanggan.

Digitalisasi mendorong perubahan yang cepat dan mendasar pada pola bisnis yang ada saat ini, serta menimbulkan efek jejaring yang mengubah sifat produksi menjadi nirbatas, kolaboratif, dan serba sharing. Hadirnya perusahaan-perusahaan seperti Airbnb, UBER, dan GO-JEK, merupakan beberapa contoh nyata inovasi bisnis berbasis “platform digital”. Perusahaan-perusahaan tersebut telah menciptakan infrastruktur digital yang membantu orang-orang untuk terhubung dan saling bertukar barang maupun jasa. Baik Airbnb, UBER, dan GO-JEK tidak menyediakan barang dan jasa tersebut dengan aset milik sendiri, namun para pengguna aplikasi mereka yang melakukannya. Meski tidak punya properti, Airbnb telah menjadi penyedia akomodasi terbesar dunia dengan jumlah layanan mencakup lebih dari 6 juta tempat di 81 ribu kota dan 191 negara. Walaupun tidak memiliki mobil sendiri, Uber telah menjelma menjadi perusahaan taksi terbesar dunia dengan lebih dari 3 juta pengemudi yang tersebar di 600 kota dan 65 negara. Begitu pula dengan GO-JEK, perusahaan ini mampu menjadi perusahaan Ojek terbesar meski tidak memiliki armada motor, dengan jumlah armada lebih dari 400 ribu pengemudi yang tersebar pada 200 kota di Indonesia.

Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi digital karena tingkat penetrasi pengguna internetnya terus meningkat. Riset Google dan Temasek memprediksi Indonesia pada tahun 2025 akan meraih pasar ekonomi internet di Asia Tenggara dengan nilai 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.450 triliun. Gabungan penetrasi internet yang tumbuh cepat dan penggunaan internet mobile yang kian tahun kian meninggi menjadi faktor pendorong pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 143,26 juta jiwa atau mencakup 54,68% dari total populasi Indonesia yang mencapai 262 juta jiwa. Pemerintah Indonesia juga telah menargetkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada tahun 2020.

Ekonomi digital memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2017 kontribusi pasar digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat 4% dibandingkan tahun 2016 sebesar 3,61%, dan tahun 2018 diperkirakan mencapai 10%. Berdasarkan Laporan Oxford Economics tahun 2016, setiap 1% peningkatan penetrasi mobile diproyeksikan menyumbang tambahan 640 juta dolar AS kepada PDB Indonesia serta membuka 10.700 lapangan kerja baru.

Pesatnya perkembangan ekonomi digital menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus ditangkap oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sesuai dengan amanat undang-undang, secara garis besar BUMN mengemban 2 peran utama, yaitu sebagai Agen Pencipta Nilai dan sebagai Agen Pembangunan. Sebagai Agen Pencipta Nilai, BUMN dituntut mengejar keuntungan sehingga mampu menjaga keberlangsungan usahanya untuk terus tumbuh dan berdaya saing lokal dan global. Sedangkan peran sebagai Agen Pembangunan, dilaksanakan oleh BUMN melalui 4 pilar, yaitu: 1) Pembangunan Ekonomi: melaksanakan program pemerintah untuk menciptakan multiplier effect ekonomi nasional; 2) Kemanfaatan Umum: menyediakan barang/jasa untuk kebutuhan hajat hidup masyarakat; 3) Perintis Kegiatan Usaha: merintis kegiatan usaha yang belum mampu dilakukan oleh swasta dan koperasi; dan 4) Ekonomi Kerakyatan: turut aktif membantu pengusaha golongan ekonomi lemah.

Secara objektif, fungsi dan peran BUMN sebagai Lokomotif Pembangunan Bangsa dinilai semakin nyata kehadirannya. Inilah makna sesungguhnya dari “BUMN Hadir untuk Negeri”. BUMN mendukung program Pemerintah berupa pembangunan infrastruktur dan peningkatan konektivitas, sehingga seluruh wilayah Indonesia dapat terhubung dengan lebih baik. Khusus untuk meningkatkan konektivitas telekomunikasi dan digital, BUMN melalui PT Telkom, telah berkontribusi membangun jaringan 161 KM fiber optic dan 189 ribu BTS yang menjangkau 79 ribu desa mobile coverage dan 458 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

Suka atau tidak, digitalisasi telah mengubah kondisi “pasar” yang dulu ada menjadi sesuatu yang baru, sehingga menuntut para pelaku usaha di dalamnya untuk menyesuaikan diri. Kondisi ini tak luput juga dialami oleh BUMN. Kalau tidak mau mati dan tenggelam, BUMN harus mampu berinovasi dan menyesuaikan bisnisnya sesuai dengan arah perkembangan zaman. Apabila dilaksanakan secara tepat, digitalisasi terbukti efektif dalam meningkatkan performa perusahaan, baik melalui peningkatan pendapatan maupun efisiensi biaya. Ada cukup banyak contoh penerapan digitalisasi bisnis dan layanan di BUMN, antara lain: aplikasi e-banking system oleh Bank Himbara, Digital Airport oleh Angkasa Pura II, Smart Port oleh Pelindo II, digitalisasi SPBU oleh Pertamina dan yang terbaru adalah dompet digital (e-wallet) LinkAja.

LinkAja merupakan salah satu bentuk inovasi digital hasil sinergi BUMN dan peleburan layanan dompet digital milik Telkomsel dan Bank BUMN, yaitu: T-Cash Telkomsel, ecash Bank Mandiri, Yap! BNI, dan TBank BRI. LinkAja melengkapi platform pembayaran digital yang sudah hadir lebih dulu seperti OVO dan GoPay. Pengguna dapat menggunakan fitur alat pembayaran di merchant-merchant yang sebelumnya menjadi rekanan perbankan BUMN dan Telkomsel, pembelian BBM di pom bensin Pertamina, pengiriman uang (remitansi), pembelian pulsa dan internet, pembayaran listrik dan tagihan air PDAM, pembelian paket TV kabel, pembelian gear gaming, pembayaran BPJS Kesehatan dan asuransi, pembayaran cicilan multifinance, televisi berbayar iflix, donasi, dll.

“Digitalisasi dan Prospek Bisnis BUMN sebagai Lokomotif Pembangunan Bangsa” merupakan tema yang sangat menarik untuk diulas dan dikaji lebih lanjut dari berbagai aspek terkait akuntansi manajemen. Sumbangsih gagasan dan pemikiran dari setiap anak bangsa sangat diharapkan karena akan menjadi masukan yang berharga dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan BUMN yang profesional, mengakselerasi pertumbuhan kinerja BUMN, sekaligus semakin mendorong peningkatan kontribusi dan peran BUMN sebagai agen pembangunan.

Salam,
Gatot Trihargo

Sekretariat Panitia